Asyiknya Belajar Bikin Wayang Suket Sembari Telusuri Jejak Oei Tiong Ham – Kilasbaca.com

Sejumlah siswa asyik mengikuti workshop pembuatan Wayang Suket di gedung Pringsewu Kota Lama Semarang. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

SEMARANG – Siang itu suasana ruangan di lantai tiga Rumah Makan Pringsewu di kawasan Kota Lama Semarang sangat riuh. Hujan yang mengguyur Kota Lama, Semarang sedari pagi tak menyurutkan niat para orang tua untuk mengajak anaknya ke lokasi workshop wayang suket tersebut.

Bahkan Kent Lirey Alkhalifi rela datang jauh-jauh dari Perumahan Beringin Lestari Ngaliyan bersama ibundanya agar dapat ikutan workshop wayang suket.

Wajah mereka sumringah. Jemari tangannya tak berhenti merangkai wayang suket yang terbuat dari ilalang padi.

“Yang paling sulit itu pas bikin kepala wayangnya. Keliatan rumit banget,” kata Lirey, saat ikut membuat wayang suket, Minggu (27/1/2019).

Sembari didampingi para pemandu wisata Kota Lama, Lirey, tampak antusias merangkai helai demi helai ilalang untuk dibuat menjadi sebuah wayang.

Membuat wayang suket jadi pengalaman berharga baginya. Ia baru pertama kali membuat wayang suket.

“Sebenarnya lebih asyik main wayang suket ketimbang main gadget. Senang banget setelah lama kepengin buat wayang, akhirnya bisa keturutan juga,” kata siswi kelas lima SD Al Azhar tersebut.

Sementara Miftahul Alim, seorang pemandu wisata Kota Lama mengaku terdapat 25 anak-anak yang ikut pelatihan wayang suket.

Wayang suket dibuat dari rumput mendong yang mudah didapat di daerah rawa-rawa seperti Kota Semarang. Alim kerap memperkenalkan keunikan wayang suket kepada para pelancong yang singgah di Kota Lama.

Ia juga beberapa kali menggelar pelatihan wayang suket kepada para pelancong. Khususnya saat weekend, ia dan teman-temannya kerap mengisi acara workshop.

“Kami ingin memperkenalkan budaya Jawa. Dan mendidik anak-anak tentang pelestarian wayang suket. Apalagi wayang suket itu menggambarkan sosok Dewi Sri, sang dewi padi. Kebetulan bahan-bahannya gampang dicari sekitar sini dan cenderung ramah lingkungan,” tuturnya.

Terdapat empat pemandu wisata yang mengajari anak-anak membuat wayang. Ia berharap mampu membumikan wayang suket. Sehingga ketika para pelancong mampir ke Kota Lama, tak cuma sekedar jalan-jalan saja. Melainkan bisa mempelajari khazanah budaya Jawa agar tetap lestari.

Sedangkan, Rofiq Ahmad pemandu wisata lainnya di Kota Lama mengatakan sembari melatih pembuatan wayang suket, ia juga mengajak peserta workshop menyusuri jejak gedung-gedung peninggalan si raja gula Oei Tiong Ham.

Gedung-gedung yang ia maksud adalah bekas bangunan Susman Kantor, Gedung Butterword, Monod, Gedung RNI, Hero Kafe dan gedung yang sekarang dipakai Restoran Pringsewu.

“Jadi apa yang ada di Jalan Kepodang itu dulu miliknya Oei Tiong Ham. Mulai gudang penyalur tenaga kerja Indonesia pertama kali di Jawa Tengah, kantor surat menyurat ke luar negeri, lalu gedung yang dipakai Pringsewu ini dulu juga miliknya Oey Chi Shien, ayahnya Tiong Ham. Ini dulunya kantor makelar yang sering dipakai oleh Tiong Ham. Dia suka kantor di sini karena menghadap ke Pecinan. Di sini masih ada brangkasnya Tiong Ham. Gedung ini sudah berdiri sejak 1830,” tuturnya.

Deretan gedung milik Tiong Ham itu sekarang sudah beralih fungsi semua. Rata-rata sudah dinasionalisasi oleh pemerintah dan jadi milik pihak swasta. Ayah Tiong Ham sendiri datang ke Semarang karena melarikan diri dari China. Karena Semarang jadi kota teraman sedunia seiring terdapat tempat penampungan warga China terbesar. (far)


Artikel yang berjudul “Asyiknya Belajar Bikin Wayang Suket Sembari Telusuri Jejak Oei Tiong Ham – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.