Berbekal Secangkir Air, Pria Ini Dipercaya Mampu Menggeser Awan – Kilasbaca.com

Santoso Joko Purnomo alias Joko Menthek saat ditemui di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

SEMARANG – Penampilannya memang sangat sederhana. Hanya memakai kaos oblong merah dan celana jeans. Tapi dia menjadi salah satu sosok penting di balik kesuksesan berbagai perhelatan acara besar di Kota Semarang.

Santoso Joko Purnomo namanya. Ia menyambut ramah saat ditemui metrojateng.com di pelataran Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jumat (11/1/2019).

Siapa sangka di balik perawakannya yang kurus, Joko Menthek–sapaan karibnya, justru sejak lama dikenal akrab dengan para artis Ibukota, event organizer (EO) hingga pejabat penting.

Sebut saja perhelatan konser ST 12, Ungu, Gigi, dan berbagai perusahaan BUMN yang rela merogoh kocek demi menyewa jasanya. Tak ketinggalan, konser Via Vallen juga memakai jasanya dalam acara Gebyar Samsat di area Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan Semarang, 26 November 2018 lalu.

Kedekatan Joko dengan para pesohor maupun pejabat bukanlah tanpa alasan. Ia sejak 12 tahun terakhir menekuni profesi sebagai pawang hujan, memang kerap dipercaya mendukung kelancaran acara-acara hiburan yang digelar di Ibukota Jateng.

“Tidak ada yang bisa menolak hujan. Yang ada itu ya menggeser awan mendungnya saja,” kata Joko lugas saat memulai obrolan.

Saat beraksi menggeser awan, ia mengaku tak pernah memakai ritual aneh-aneh. Bekalnya cuma keyakinan. Bekal lainnya adalah membaca arah angin “Ke mana angin bertiup”. Maka ia meyakini bahwa awan bisa digeser.

“Ketika dapat oder, saya langsung menuju ke lokasi acaranya. Saya lihat situasinya. Tanpa bekal apapun. Tapi biar orang enggak curiga, saya biasanya bawa segelas air, saya kelilingi lokasinya. Saya cuma baca doa

‘Hasbunallah Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir’ berulang kali tanpa putus, tidak tidur semalam suntuk hingga acaranya dimulai,” ungkap bapak dua anak yang tinggal di Perum Korpri Sambiroto tersebut sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.

Doanya agar awan bergeser sering membuahkan hasil. Awan mendung yang semula menggantung di langit kota tersebut, tepatnya di atas lokasi acara dihelat, pelan-pelan berarak. Alhasil, tidak ada hujan mengguyur di lokasi acara tersebut. Tetapi di daerah lain, sesuai arah angin, biasanya terjadi hujan.

Setiap menerima order dari klien, Joko memasang tarif bervariasi. Tergantung “besar kecil” dan lama waktu acara tersebut berlangsung. Misalnya untuk tarif acara pernikahan berkisar Rp 1,25 juta. Sedangkan tarif acara konser artis Rp 1,5 juta.

“Beda-beda tergantung lamanya acara,” tuturnya.

Tapi tidak semua upaya memindahkan awan itu berjalan mulus. Joko mengaku terkadang  juga mendapat halangan. Persaingan sesama pawang hujan terkadang juga terjadi. Ia mengaku pernah juga diserang pawang lain.

Namun ada pula yang salah prediksi atau penghitungan, sehingga hasilnya tidak sesuai harapan.

“Ketika ada konser ST 12 misalnya, apa yang saya lakukan sempat gagal. Masalahnya di dekat acara konser ada pasar malam yang pakai jasa pawang hujan juga. Sama-sama ingin acaranya sukses, saya yang diserang, baru acara dimulai langsung turun hujan. Setelah saya kelilingi lokasi konsernya, saya temukan sembilan butir beras. Saya lihat orangnya yang nyerang ada di dekat panggung, saya lempar berasnya, dia tersungkur, seketika lalu minta maaf sama saya. Memang terkadang ada halangan macam itu,” bebernya.

Joko mengaku profesi menjadi pawang hujan, diwarisi dari mendiang kakeknya. Ia mengklaim kakeknya dulu ‘orang pintar’ yang terkenal di desanya. “Meski orang awam bisa mempelajari teknik menggeser awan, tapi saya pribadi merasa kemampuan saya ini datang atas turunan dari almarhum kakek saya,” ujar Joko.

Setelah belasan tahun menekuni profesi pawang hujan, tak cuma penghasilannya yang lumayan. Anak-anaknya juga bisa hidup mapan. Banyak polisi yang kerap memakai jasanya berbalik menolongnya.

“Salah satunya saya jadi banyak kenal dengan pejabat, polisi dan orang-orang EO. Anak saya pas butuh kerja, juga ditolong sama seorang polisi. Akhirnya bisa kerja di Samsat Wonosobo, satunya lagi jadi pegawai negeri,” katanya.

Menurutnya, upaya menggeser awan dengan doa ini bisa dilakukan siapa saja. Asalkan percaya kepada Allah SWT dan hati bersih. “Percayakan kepada-Nya, karena dialah sang pencipta atas segalanya di muka bumi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kehendak-Nya. Kita hanya bisa ikhtiar,” tukasnya. (far)


Artikel yang berjudul “Berbekal Secangkir Air, Pria Ini Dipercaya Mampu Menggeser Awan – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.