Prabowo sewa survei Median supaya menang polling

Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf Amin curiga dengan hasil yang telah ditayangkan oleh survei Median. Sebab, Prabowo unggul 9,2% dibandingkan dengan Jokowi. Padahal, pada 9 survei yang lain, Jokowi selalu unggul dari Prabowo. Aneh. Tampaknya Prabowo sengaja sewa survei Median demi unggul polling dari Jokowi.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Arsul Sani tidak kaget melihat survei Median. Dalam rilis terbarunya, mencatatkan selisih elektabilitas capres petahana Joko Widodo dengan Prabowo Subianto terpaut 9,3 persen, di mana Jokowi unggul di angka 47,9 persen.

“Saya tak surprise kalau survei Median,” ujar Arsul di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Selasa (22/1).

Arsul hanya percaya kepada survei yang dilakukan oleh lembaga yang tidak pernah menerima pesanan partai tertentu. Dia mengurutkan beberapa lembaga survei yang bisa dipercaya, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Litbang Kompas, sampai Indikator Politik.

“Saya terus terang kalau survei yang saya lihat yang benar-benar dia tidak pernah menerima pesanan dari partai tertentu atau kelompok tertentu,” kata Arsul.

Sekretaris Jenderal PPP itu menceritakan, bagaimana Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi memberikan jarak dengan partainya. Bahwa, Indikator menolak melakukan survei kepada partai yang meminta lembaga itu sebagai konsultan. Menurut Arsul hal itu agar tidak menghasilkan survei yang bias.

Kembali ke hasil survei Median, Arsul menyebut rekam jejak Median sudah jelas mengarah ke mana. Seperti pada Pilpres 2014.

“Jadi kalau Median nggak surprise lah kalau soal itu. Lihat di pilpres 2014 cari sendiri aja track recordnya,” kata dia.

Arsul pun menyoroti ketidaktransparanan lembaga survei yang merilis ke publik. Bahwa tidak pernah disebutkan siapa donatur dan sumber dana survei tersebut.

“Kalau lembaga survei yan memang core bisnisnya melakukan survei begitu apa dia pernah dalam reportnya saya nggak pernah liat gitu, survei ini dibiayai oleh siapa nggak ada,” pungkasnya.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Ace Hasan Syadzily meragukan hasil survei Median. Sebab, dibandingkan beberapa lembaga survei yang sudah duluan merilis, hanya Median yang menyatakan elektabilitas inkumben Jokowi di bawah 50 persen, dengan selisih di bawah 10 persen.

Oleh sebab itu, Ace mengatakan, publik perlu mengkritisi lembaga survei partisan. Caranya dengan menyandingkan hasil survei dengan yang lain.

“Kalau hasil surveinya nyeleneh sendiri patut diduga lembaga survei tersebut sedang membangun framing politik,” ujar Ace dalam keterangan tertulis, Selasa (22/1).

Politisi Partai Golkar itu menjelaskan, rata-rata hasil survei menyebut selisih Jokowi dengan Prabowo Subianto, sebesar 20 persen. Seperti yang terakhir diungkap Charta Politika. Ace menyebut, timses Prabowo-Sandiaga mengklaim hasil survei internal selisih 10 persen, menanggapi hasil survei yang menyebut selisih 20 persen.

“Paslon 02 bertahan dengan mengangkat framing bahwa jarak antara palson 01 dengan 02 tinggal 10 persen atau satu digit. Timses paslon 02 menyebut angka itu adalah survei internal yang tidak dipublikasikan,” jelasnya.

Dalam hasil survei Median, Jokowi-Ma’ruf meraih 47,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 38,7 persen. Jarak antar kedua pasangan ini hanya sekitar 9,2 persen.

“Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin 47,9 persen, Prabowo-Sandiaga 38,7 persen dan undecided sebesar 13 persen. Selisih suara 01 dan 02 sudah selisih satu digit, dengan ‘gap’ nya kurang lebih 9,2 persen,” kata Rico di kawasan Cikini, Jakarta, Senin (21/1).

No comments:

Powered by Blogger.