Hanya 14% dari Caleg Demokrat Jatim yang Dukung Prabowo

Kubu Prabowo-Sandiaga semakin kehilangan dukungan dari partai lain, dan kali ini dari Partai Demokrat yang merupakan salah satu partai pendukung terbesar mereka.

Partai Demokrat yang pada pilpres kali ini menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandiaga, juga membebaskan para kadernya untuk memilih siapapun yang sesuai hati nurani atau strategi masing-masing. Alhasil, banyak dari para caleg Demokrat yang malah menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf.

Tak lama setelah Pakde Karwo –panggilan akrab Soekarwo, mantan Gubernur Jawa Timur– ditunjuk untuk mendampingi AHY yang ditugaskan untuk melanjutkan pemenangan Partai Demokrat, beliau selaku Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur (Jatim), membeber hasil survei tentang arah dukungan para calon anggota legislatif (caleg) partainya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di provinsi yang pernah dipimpinnya.

Pakde Karwo menuturkan, meski Demokrat adalah pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga S Uno di Pilpres 2019, namun mayoritas calegnya lebih condong untuk mendukung pasangan Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin (Jokowi – Ma’ruf).

“Jadi 86 persen caleg Demokrat itu ke Pak Jokowi, sedangkan sisanya 14 persen (mendukung Prabowo-Sandi),” ujar Pakde Karwo di kantor DPP PD, Jakarta, Sabtu (2/3).

Apa yang disampaikan Pakde Karwo sebenarnya menjadi pertanda bagaimana realitas sikap para kader Demokrat. Mereka berbelok arah dari keputusan pusat yang mendukung pasangan 02. Tapi, hanya menyisakan 14 % untuk pasangan yang didukungnya, tetap saja sebuah ironi. Bahkan sebuah tragedi.

Tentang adanya dukungan dari para caleg Demokrat kepada pasangan 01, secara umum hal ini dibenarkan oleh Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Namun, menurut Ferdinand, apa yang dilakukan para kader tersebut hanyalah sikap oportunis semata. Inilah yang menurutnya menimbulkan banyak kekeliruan penilaian. Karena, menurut Ferdinand, dukungan tersebut tidak murni.

“Memang betul di internal Demokrat itu ada beberapa kader kami yang sebetulnya tidak mendukung Jokowi-Ma’ruf, tetapi memanfaatkan Jokowi-Ma’ruf supaya rakyat memilih dia (sebagai caleg),” ujar Ferdinand.

Entah sekedar pembelaan diri atau sekedar ngeles, Ferdinand mengatakan kader tersebut hanya memanfaatkan popularitas pasangan Jokowi-Ma’ruf. Karena biasanya yang melakukan ini berada di daerah pemilihan basis paslon 01 itu. Nah menurut Ferdinand, supaya masyarakat memilihnya sebagai caleg, foto pasangan Jokowi-Ma’ruf turut dipasang dalam spanduk-spanduk kader tersebut.

Apa yang terjadi di Demokrat, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebelumnya TGB telah lebih dulu berbelok haluan. Disusul oleh gubernur Papua, Lukas Enembe. Sementar beberapa kepala daerah lainnya juga menyusul.

Apa yang dilakukan para kader dan tokoh di atas sebenarnya juga bukan hal aneh. Beliau-beliau ini yang membaca arah dan dinamika para pemilih di daerahnya. Mereka lah yang menjaring langsung aspirasi konstituennya. Dan mereka lah para saksi bahwa hasil kerja tidak akan bohong. Nyata bukan pencitraan.

Selain hasil kerja nyata yang terlihat, sebagai seorang tokoh dan seorang pemimpin, tentu saja mereka tidak akan membiarkan masyarakatnya terus-menerus tegang karena menjadi korban hoax. Dan selalu berprasangka buruk kepada pemimpin atau calon pemimpinnya.

Juga menjadi sebuah tindakan konyol andai Demokrat tetap memberi suara kepada Prabowo-Sandi, karena dari berbagai hasil survei, elektabilitas pasangan ini masih tertinggal (jauh) dari petahana.

Apalagi setelah secara jelas, pimpinan pusat mereka telah bersikap realistis soal dukungan partai kepada pasangan Prabowo-Sandi. Karena secara nyata, dukungan mereka tidak memberi timbal-balik yang sepadan. Justru rugi.

Prabowo-Sandi tidak memberi efek bagi keberhasilan Demokrat. Sementara Demokrat turut memberi suara pada pasangan ini.

Kembali ke para caleg Demokrat di Jawa Timur yang memberi dukungan.kepada pasangan 01, hal ini semakin mempertegas pengakuan akan sosok Pak Jokowi.

Pak Jokowi terbukti berhasil dengan program kerjanya. Upaya merendahkan nilai dan meniadakan arti hasil kerja Pak Jokowi terbukti tidak berhasil.

Aspirasi rakyat yang mengakui dan merasakan hasil kerja Pak Jokowi kemudian berhasil ditangkap sebagian besar para caleg Demokrat Jawa Timur ini. Itulah sebabnya sehingga mereka mengalihkan dukungannya kepada pasangan 01.

Selain itu, apa yang dilakukan para caleg tersebut, menunjukkan kecerdikan dan kejujurannya. Mereka cerdik mengambil jalan yang tepat sesuai keadaan, daripada harus bertahan dengan pilihan yang lama dengan akibat akan terlihat konyol karena tetap bersama pasangan 02 yang kemungkinan besar akan kalah.

Mereka juga jujur karena mengikuti keinginan para konstituennya. Para caleg daerah inilah yang bersentuhan langsung dengan daerah dan para pemilihnya. Sehingga mereka tahu persis apa yang terjadi di situ.

Pada akhirnya, tawar-menawar mereka adalah langsung dengan para pemilik suara, bukan seperti yang lazim dilakukan oleh para elit, yang biasa tawar-menawar semata karena demi kekuasaan.

Akhirnya, sekali lagi ini buah dari kerja, kerja, kerja yang dengan keras dilakukan oleh Presiden Jokowi. Bukan hasil dari pencitraan, pidato doang, bersandiwara, maupun sekedar janji dan narasi menebar ketakutan dan pesimisme.

No comments:

Powered by Blogger.