Hubungan Negatif Prabowo dan Gus Dur di Era Orde Baru

Fenomena aneh terjadi beberapa waktu terakhir ini. Sandi digadang-gadang didukung NU dari Jawa Timur dan juga semacam ada pengiringan opini bahwa NU belum tentu dukung Jokowi, walaupun cawapresnya mantan rais aam PBNU, KH Ma’ruf Amin.

Mengapa aneh? Karena orang-orang yang ada di kubu Prabowo itu adalah orang-orang yang sering kali berseberangan dengan NU. Bahkan tidak jarang dari mereka itu menghina NU dan tokoh-tokohnya dengan cara-cara yang – menurut saya – sangat tidak pantas.

Sejarah membuktikan bahwa Rizieq pernah menghina Gus Dur secara terang-terangan di televisi. Dan Rizieq adalah salah satu orang yang merekomendasikan Prabowo sebagai capres – walaupun dia sendiri mengakui keislaman Prabowo tidak jelas. Apakah penghinaan itu sudah lekang dari ingatan NU sementara Gus Dur adalah tokoh penting di NU.

Sejarah juga membuktikan bahwa Soeharto dan keluarga terutama Prabowo juga sering berseberangan dengan Gus Dur. Bahkan Prabowo pernah mengancam akan membunuh Gus Dur. Hal ini disampaikan Muhammad Zakki dalam bukunya yang berjudul ‘Gus Dur Presiden Akhirat’. Demikian kutipan dalam bukut tersebut:

Apakah NU sudah melupakan ini sementara Gus Dur begitu penting di dalam NU kekinian? Kalau menurut banyak kalangan NU, memaafkan kesalahan orang itu adalah keharusan, tetapi melupakan kesalahan itu jangan. Itulah kira-kira jejak sejarah kelam Prabowo dan pendukungnya terhadap Gus Dur dan NU. Lalu mau dengan mudahnya kamu mengatakan NU pilih 02?

Selain itu dengan tegas Said Aqil Siraj mengatakan bahwa 02 didukung oleh kalangan Islam radikal, ekstremis dan bahkan pendukung terorisme. Buktinya adalah HTI menjadi senjata utama Prabowo dalam mengerahkan massa. Hampir di setiap acara yang mendukung Prabowo, bendera HTI selalu berkibar. Bendera yang dimaksud adalah bendera HTI yang dianggap sebagai bendera tauhid.

Sampai dunia kiamat – yang dalam Bahasa Said Aqil Siraj adalah ‘selamanya’ – NU dengan konsep negara berdasarkan konsensusnya tidak akan pernah bertemu dengan konsep kekhalifahan HTI. Secara ideologis antara NU dengan HTI sudah sangat tidak mungkin dipertemukan. Masih mau bilang UN pilih 02?

Lalu sekarang salah satu mantan rais aam NU menjadi cawapres, masih kamu katakan NU pilih 02? Itu suatu yang sangat tidak masuk akal. Orang NU, sudah pasti dukung NU. Itu konsekuensi logis yang tak mungkin terbantahkan. Kalau ada orang NU yang tidak memilih orangnya sendiri, dapat dipastikan orang itu adalah golongan sakit hati – yang mereka bahasakan dengan ‘kasihan pak yai sudah sepuh, mari selamatkan ulama kita’.

Secara psikologis pun orang akan memilih orang yang sejalan dengan keagamaannya selama orang tersebut diyakini mampu mengemban amanah dengan dibuktikan dengan rekam jejak. KH Ma’ruf Amin adalah seorang politisi kawakan, dia juga ulama sepuh yang disegani, lalu alasan apa lagi untuk tidak memilih dia? Masih mau bilang NU pilih 02?

Terima atau tidak cara berpikir seperti di atas merupakan suatu kenyataan yang tak terbantahkan. Hal ini pun dikonfirmasi dari beberapa pernyataan kalangan NU, baik itu tokoh agama dari kalangan NU, pun tokoh politik dari kalangan NU.

Intinya, bagaimana mungkin kamu se-kapal dengan orang yang memusuhimu dan menghinamu padahal masih ada kapal kosong yang bisa ditumpangi? Bagaimana mungkin kamu memilih orang (Prabowo-Sandi) yang bersama dengan dan didukung kalangan yang selalu menghinamu dan berseberangan dengan prinsip bernegaramu, sementara ada orang lain (Jokowi) yang sudah terbukti sejalan dengan prinsip bernegaramu dan sekaligus pendampingnya adalah bagian dari hidupmu sendiri (KH Ma’ruf Amin)?

Kalau kamu masih berharap NU memilih 02 itu sama saja kamu mau mengatakan NU itu berpenyakit stockholm syndrome: sudah dipukul, dihantam, dan dihina, eh malah memilih pemukulnya, penghantamnya, dan penghinanya.

Saya yakin NU memang bukan pendendam, jangankan memaafkan sesama Muslim, yang non-Islam saja mereka jaga. Tetapi mereka juga bukan orang bodoh, yang gampang dikibuli dan dibohongi oleh para politisi. Jadi tidak usah bermimpi NU akan memilih Prabowo-Sandi.

Berarti Jokowi memanfaatkan NU? Bukan memanfaatkan, melainkan Jokowi menggandeng NU untuk secara aktif di pemerintahan untuk menjaga, memajukan dan menjayakan Indonesia.

Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid berbicara terkait hubungan kurang harmonis Prabowo Subianto dan Gusdur di masa Orde Baru. Yenny mengungkapkan, Prabowo kala itu mengikuti kebijakan Orde Baru yang memusuhi Gusdur.

“Pak Prabowo dengan Gus Dur itu hubungannya kompleks, artinya ketika Pak Prabowo masih di orde baru ya mengikuti kebijakan dari orde baru yang memusuhi Gus Dur,” kata Yenny di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Menurut Yenny, banyak orang yang pro Orde Baru memusuhi Gusdur, dan bukan hanya Prabowo. “Saya rasa pendapat yang diberikan Pak Prabowo itu ketika masih berada di rezim Orde Baru,” ujarnya.

No comments:

Powered by Blogger.