Kisah Sutomo, 44 Tahun Keliling Jual Kopi Giling – Kilasbaca.com

SEPEDA angin tersebut berjalan melambat di pelataran Sri Ratu, Jalan Pemuda, Semarang. Seorang lelaki tua mengayuhnya. Sebuah alat penggiling biji kopi terpasang di belakang sedelnya.

Sutomo sedang menggiling kopi pesanan pembeli. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

Hari beranjak siang ketika Sutomo, nama lelaki tua itu, menyandarkan sepedanya di tepi jalan. Ia menunggu pembeli. “Ini saya bawa bungkusan biji-biji kopi kiloan untuk jaga-jaga kalau ada yang mau beli beberapa bungkus,” katanya.

Sutomo berdagang kopi giling secara berkeliling sejak tahun 1975. “Ada yang beli banyak langsung kiloan. Ada yang sedikit-sedikit,” kata bapak satu anak ini. Kopi bubuk dagangannya menjadi incaran ragam pembeli. Kebanyakan kakek-kakek, tapi tak sedikit anak muda masa kini yang sudah merasakan nikmatnya kopi bubuk racikan Sutomo.

Harganya relatif terjangkau. Satu ons kopi bubuk hasil gilingan Sutomo dapat dibeli hanya dengan Rp 10 ribu saja. “Ini kopi robusta. Paling laris memang,” kata dia.

Saat ini, kata Sutomo, persaingan bisnis kopi semakin ketat. Tetapi masih lumayan banyak orang yang tergiur memburu kopi giling Sutomo. Menurutnya, itu karena rasanya yang lebih sedap dibanding kopi kemasan.

“Karena ini kan kopi asli. Kata orang-orang juga, kopinya lebih nikmat kalau digiling pakai alat seperti ini, ketimbang digiling pakai mesin modern. Aromanya sedap,” ujar Sutomo.

Jika sedang ramai pembeli, Sutomo bisa mengantongi untung Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu dalam sehari. Tapi rata-rata dalam sehari ia membawa pulang untung Rp 50 ribu.

“(Untung penjualan) nggak tentu memang. Yang penting apapun pekerjaannya tetap disyukuri saja,” kata Sutomo.

Di usia yang sudah 61 tahun, kedua kakinya masih terbilang cukup gesit mengayuh sepeda. Ia berangkat dari rumahnya di Kampung Darat Nipah, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, sesaat setelah sang fajar muncul di ufuk timur.

Ia hafal semua jalan di Kota Semarang. Pelanggannya bertebaran dari seputaran kawasan Pasar Johar Lama, Kanjengan, Jalan Mataram, Sleko sampai sekitar Stadion Diponegoro.

Berjualan kopi bubuk sejak puluhan tahun menjadi berkah tersendiri bagi dirinya. Ia sudah bisa menyekolahkan putri semata wayangnya hingga meraih gelar sarjana. Capaian itu membanggakannya. Jerih payah yang membuahkan hasil.

“Semoga ini tetap menjadi berkah buat keluarga saya dan anak saya satu-satunya,” tuturnya. (Fariz Fardianto)


Artikel yang berjudul “Kisah Sutomo, 44 Tahun Keliling Jual Kopi Giling – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.