Klaim Kawasan Kumuh di Jateng kian Menyusut, Kini Tersisa 3.004 Hektare – Kilasbaca.com

SEMARANG – Jumlah pemukiman kumuh di Jawa Tengah diklaim semakin menyusut. Data dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (Disperakim) Jawa Tengah menyebutkan berdasarkan kondisi 2014, pemukiman kumuh mencapai 6.981 hektare.

Menurut Kepala Disperakim Jawa Tengah, Budi Wibowo, sudah ada 3.977 hektare kawasan kumuh di Jateng yang berhasil dihilangkan. Sehingga saat ini tinggal 3.004 hektare saja.

Gubernur Ganjar Pranowo saat berbicara dalam workshop kawasan pemukiman kumuh di Santika Pandanaran. (istimewa)

“Dari jumlah itu, pemerintah terus melakukan kegiatan penghapusan kawasan pemukiman kumuh dengan serius. Tahun ini, kawasan kumuh itu berkurang dan hanya tinggal menyisakan 3.004 hektare saja. Artinya sejak 2014 sampai sekarang, sudah ada 3.977 hektare kawasan kumuh di Jateng yang dihilangkan,” ujarnya, usai dialog Pemantauan Kawasan Pemukiman Kumuh di Hotel Santika Semarang, Senin (25/3/2019).

Ia berjanji sisa permukiman kumuh yang ada saat ini ditargetkan bakal selesai dihapuskan pada 2024 mendatang.

Ia mengungkapkan penghapusan kawasan kumuh karena tidak hanya membuat wajah daerah tertata rapi, juga berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat yang ada.

Ia menganggap jika ada yang kumuh, maka kesehatan, kesejahteraan dan faktor-faktor sosial lain tidak akan terwujud.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, fokus penghapusan pemukiman kumuh tidak boleh hanya mengedepankan faktor infrastruktur saja. Lebih dari itu, aspek kultural dan sosial masyarakat juga harus diperhatikan.

“Mohon maaf, di lokasi kawasan pemukiman kumuh itu banyak ditemui permasalahan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, narkotika dan kriminalitas. Ini harus diperhatikan, jadi jangan hanya mengubah tampilannya saja, namun kultural masyarakat harus juga diubah,” bebernya.

Menurut Ganjar, banyak masalah yang timbul di kawasan pemukiman kumuh. Dirinya mengaku sudah beberapa kali mengunjungi sejumlah kawasan kumuh dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan sosial masyarakatnya.

Kesejahteraan masyarakat, menurutnya diukur dari ada tidaknya kawasan kumuh. Maka di negara-negara maju, aspek ini benar-benar diperhatikan.

“Hampir tidak ada di negara maju itu kawasan kumuh. Di negar-negara maju itu pasti lingkungannya bersih, tertata rapi dan aman. Mari kita mewujudkan hal itu secara pelan namun pasti, karena menyelesaikan masalah ini tidak bisa dilakukan secara instan,” terangnya. (far)

 


Artikel yang berjudul “Klaim Kawasan Kumuh di Jateng kian Menyusut, Kini Tersisa 3.004 Hektare – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.