Sempat Dapat Award Sebelum Tutup Usia, Selamat Jalan Prof Agus Maladi – Kilasbaca.com

Suasana persemayaman jenazah Prof Dr Agus Maladi Irianto MA di Auditorium Imam Bardjo sebelum dimakamkan di Pemakaman Keluarga Undip. (metrojateng.com/Ahmad Khoirul Asyhar)

 

SEMARANG – Dunia pendidikan di Kota Semarang sedang berduka. Prof Dr Agus Maladi Irianto MA, guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip), yang juga dikenal sebagai seniman dan budayawan, tutup usia di RSUP Dr Kariadi Semarang, Jumat (15/3/2019) pukul 03.25. Ia pergi ke alam keabadian setelah berjuang melawan sakit komplikasi hati yang cukup lama.

Kepergian Agus Maladi merupakan  kehilangan besar tak hanya bagi Undip, tapi juga Kota Semarang. Di Undip sendiri, Prof Agus Maladi merupakan sosok dosen istimewa yang memiliki Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) terbanyak.

“Menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Prof Dr Agus Maladi Irianto MA. Beliau merupakan dosen dan guru besar yang dikenal ulet dan berprestasi. Di tengah (melawan) sakitnya, beliau masih mendapat award sebagai dosen dengan HaKI terbanyak,” kata Rektor Undip, Yos Johan Utama, saat upacara persemayaman jenazah di Auditorium Imam Bardjo, Jumat (15/3/2019).

Yos menambahkan, keuletan dan selalu berusaha menjadi yang terbaik serta bermanfaat bagi banyak orang merupakan salah satu hal yang diingat dari Agus Maladi. “Kami mengenalnya sebagai seorang guru dengan ilmu bermanfaat yang terus dikembangkan anak didiknya. Semoga segala ilmu yang bermanfaat, serta penderitaan dan sakitnya menjadi ampunan atas segala kesalahannya,” terangnya.

Sebagai seorang dosen, Agus Maladi telah melakukan banyak penelitian dan pengabdian masyarakat. Hasil penelitiannya juga sudah banyak dibukukan. Di antaranya Tayub, Antara Ritualitas dan Sensualitas: Erotika Petani Jawa Memuja Dewi (2005); Epistemologi Kebudayaan, Isu Teoritik Dalam Karya Etnovfafi (2009); Media dan Kekuasaan. Antropologi Membaca Dunia Kontemporer (2014); Interaksionalisme Simbolik, Pendekatan Antropologi Merespons Fenomena Keseharian (2015); dan buku-buku ajar atau diktat.

Selain dikenal sebagai dosen dan guru besar Undip, pria kelahiran Wonosobo, 4 Agustus 1962, itu juga seorang budayawan dan seniman. Ia merupakan pendiri Laboratorium Seni dan Budaya “Lengkong Cilik”. Lulusan Sastra Indonesia FIB Undip tersebut juga aktif berteater bersama TeaterEmper Kampus (Emka), Kelas Teater Undip, dan Teater Waktu. Selama berteater ia juga melahirkan banyak naskah lakon dan menjadi sutradara pertunjukan.

Mantan Ketua Dewan Kesenian Semarang itu juga dikenal dengan sejumlah karya filmnya meliputi film Keris (2009); Jelajah Budaya (2012); Dari Sini Kita Mulai (2012); Hormat Sang Saka (2013); Bunga Cantik Itu Bernama Istiati Soetomo (2013); Kalau Saja Punya Sepeda (2014); Sang Begawan Eko Budihardjo (2014); Sudharto: Berkarya dengan Cinta (2014); Di Balik Misteri Jathilan (2015); dan Ayah (2016).

Menurut budayawan Prie GS, Agus Maladi merupakan seniman dan budayawan yang mampu berpikir secara akademik. Ia bisa melihat sebuah permasalahan dengan cara yang berbeda dari banyak seniman. Agus Maladi juga orang yang tidak ingin berkonflik.

“Sebagai seorang akademisi beliau adalah kekayaan Undip yang luar biasa. Sebagai kekayaan Semarang ia adalah tokoh yang bisa jadi 20 tahun sekali ada. Ia menafsirkan seni dengan cara akademis bukan secara alamiah seperti kami,” katanya.

Setelah upacara persemayaman di auditorium Imam Bardjo Undip. Jenazah Agus Maladi kemudian dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Undip di Tembalang. (aka)

 


Artikel yang berjudul “Sempat Dapat Award Sebelum Tutup Usia, Selamat Jalan Prof Agus Maladi – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.