Seni Rupa Lintas Agama, Memotret Keberagaman dengan Keindahan – Kilasbaca.com

“Saya takjub dan bersyukur ketika melihat karya mereka. Saya lebih suka menyebut penyandang disabilitas dengan orang yang dikaruniai kelebihan oleh Tuhan,”

 

Romo Aloysius Budi Purnomo menunjukkan dan menjelaskan karya-karya yang dipamerkan. Bersamanya ada Rizky Puput Isnaeni, penyandang disabilitas yang ikut menyumbang tiga karyanya dalam pameran. (foto-foto ahmad khoirul asyhar/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Karya seni lahir untuk menyampaikan pesan perdamaian. Seni menjadi sebuah jalan untuk menggelorakan kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan. Terutama di tengah suasana pesta demokrasi seperti saat ini yang kritis dan cenderung saling menjatuhkan.

Seperti terlihat dalam 51 karya lukis yang terpajang rapi dalam pameran seni rupa bertajuk “Kian Berbagi Berkat bagi Kerukunan, Kemanusiaan, dan Kebangsaan” di Pastoran Johannes Maria, Unika Soegijapranata, Gang Kampung Asri, Gajahmungkur, Semarang, Sabtu-Minggu (23-24/3/2019).

Puluhan karya itu merupakan hasil goresan tangan 20 orang dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan Romo, suster, aktivis perempuan, hingga penyandang disabilitas.

Penampilan sastrawan Sosiawan Leak.

Romi Aloysius Budi Purnomo selaku penanggung jawab pameran mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari pameran pada 2018 lalu di tempat yang sama. Pameran tersebut dilaksanakan sebagai semangat memupuk demokrasi yang membahagiakan. Termasuk semangat berbagi untuk kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan.

“Forum ini forum rakyat. Pada pameran kali ini kami memberi fokus perhatian kepada para Romo, Suster, aktivis perempuan, dan penyandang disabilitas. Total ada 51 lukisan dari 20 orang,” katanya usai membuka pameran, Sabtu (23/3/2019).

Suasana pembukaan pameran seni rupa “Kian Berbagi Berkat bagi Kerukunan, Kemanusiaan, dan Kebangsaan”

Puluhan karya yang membawa pesan kerukunan, Kemanusiaan, dan kebangsaan tersebut digelar dengan konsep yang cukup sederhana. Memadukan antara unsur sastra dan seni rupa, serta karya dari para penyandang disabilitas.

“Saya takjub dan bersyukur ketika melihat karya mereka. Saya lebih suka menyebut penyandang disabilitas dengan orang yang dikaruniai kelebihan oleh Tuhan. Anak-anak ini bisa menghasilkan karya luar biasa. Lalu ada juga karya dari suster yang ternyata sangat realis dengan sisi kemanusiaan yang kuat dalam karyanya,” ungkap pria yang akrab disapa Romo Budi tersebut.

Ia menjelaskan, beberapa lukisan karya mendiang Romo Harikustono Pr yang ikut dipamerkan juga akan dijual. Hasil penjualan lukisan itu akan digunakan untuk pembangunan Rumah Sepuh Para Romo Projo Keuskupan Agung Semarang.

“Pada prinsipnya kami ingin berbagi berkat kepada semua masyarakat melalui karya seni. Kegiatan ini adalah hasil sinergi dari banyak kalangan dan komunitas, serta lintas agama,” jelasnya.

Acara pembukaan pameran tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan dari Sosiawan Leak, Kelana Siwi, dan Kun Arbi. Mereka membacakan sejumlah karya puisi. Selain itu, kegembiraan dalam pameran juga diwarnai dengan yel-yel lagu “Apa Guna Keluh Kesah” yang dimodifikasi. Acara pembukaan pameran ditutup dengan tari sufi dari Pondok Pesantren Al Islah.

“Acara ini meskipun sederhana dan skalanya lebih kecil dari tahun lalu, ternyata yang datang banyak. Bukan hanya itu, mereka yang datang itu juga heterogen, dari berbagai kalangan. Ini yang membuat pameran ini menarik,” ujar Sosiawan Leak. (aka)

 


Artikel yang berjudul “Seni Rupa Lintas Agama, Memotret Keberagaman dengan Keindahan – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.