Survei Polmark, Tujuh Parpol Diprediksi Gagal Melenggang ke Senayan – Kilasbaca.com

Eep Syaifullah selaku bos Polmark Indonesia saat membongkar hasil surveinya. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – CEO Polmark Indonesia, Eep Syaefullah Fatah memperkirakan terdapat tujuh partai politik (parpol) yang tidak mampu lolos dari parliamentary threshold atau ambang batas perolehan suara minimal partai politik dalam Pemilihan Umum 2019 nanti.

Seperti diketahui KPU telah menetapkan batas ambang lolos parliamentary threshold untuk Pemilu 2019 sebesar 4 persen.

“Ada sembilan parpol yang kami perkirakan sukses pada Pemilu tahun ini. Kemudian ada juga tujuh parpol yang rata-rata masih baru yang sulit meraih kesuksesan pada 17 April nanti,” kata Eep, tatkala memaparkan hasil survei elektabilitas parpol kontestan Pemilu 2019, Rabu (13/3/2019).

Eep kemudian membuka data hasil surveinya. Terdapat dua kategori parpol yang dipilah sesuai jenis parpol yang berpotensi sukses, termasuk parpol yang memiliki kemungkinan gagal.

Untuk parpol yang berkemungkinan sukses, Eep menampilkan gambar sembilan partai. Masing-masing ada gambar PDIP, Golkar, PKB, Demokrat, Gerindra, PAN, PKS, PPP dan Nasdem.

Sementara pada bagian parpol yang berkemungkinan gagal muncul gambar-gambar parpol. Kebanyakan mereka muka baru dan parpol medioker. Antara lain ada Perindo, Hanura, Berkarya, PSI, Garuda, PBB dan PKPI.

Eep menjelaskan kegagalan ketujuh parpol menembus Pemilu lantaran mereka tak punya basis massa yang kuat untuk mendulang suara.

Sebagian besar, menurut Eep tidak jelas menampilkan ideologi partainya. Termasuk visi misi partainya. Hal ini berbeda dengan kesembilan parpol lainnya yang punya massa akar rumput yang kuat. Kategori partai yang disebut sangat mapan dan lolos ambang batas parlemen.

Lebih jauh lagi, Eep menyebut pelibatan perempuan dalam partisipasi pemilu kali ini juga dirasa penting. Emak-emak katanya punya kekuatan politik yang tak bisa diprediksi.

“Jari-jari emak-emak ini punya kekuatan yang luar biasa. Dan jangan dipandang sebelah mata. Mereka setiap hari bisa mengarahkan anaknya, tetangganya dan keluarganya untuk menentukan pilihan hidupnya,” kata Eep lagi.

Karenanya ia mengingatkan kepada kedua Capres kontestan Pilpres 2019 supaya fokus menyasar segmen massa tersebut.

Secara khusus, Eep juga menyampaikan adanya penurunan elektabilitas capres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf. Menurutnya ada defisit pemilih sampai 27 persen yang juga dialami pada partai koalisi pengusung Jokowi-Ma’ruf.

Ia pun membandingkan elektabilitas antara masing-masing capres-cawapres dengan koalisi partai pengusungnya. Menurutnya, yang paling berjarak ditunjukkan oleh Jokowi-Ma’ruf dan pendukungnya.

“Pada kelompok 01, ada defisit 27 persen. Jadi ada 27 persen pemilih partai koalisi itu sampai saat terakhir survey belum memilih 01,” paparnya.

Selanjutnya dibandingkan capres nomor urut 02 Prabowo-Sandi, defisit angka 27 persen itu cukuplah besar. Padahal defisit suara yang dimiliki Prabowo-Sandi dan partai pengusungnya cuma berkutat 6,2 persen saja.

“27 persen dan 6,2 persen ini angka penting. Kenapa, karena itu menunjukkan bahwa elektabilitas partai yang digabungkan dalam jumlah besar belum tentu harus diterjemahkan serta merta menjadi elektabilitas pilpres. Tidak bisa begitu,” bebernya.

Yang harus diketahui oleh partai dalam situasi ini adalah pada segmen pemilih mana yang belum satu suara.

“Di bagian atau segmen mana saja mereka harus melakukan kampanye-kampanye khusus di sisa waktu terakhir. Kalau itu semua bisa dijawab dengan baik, maka partai-partai bisa memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mensolidkan pendukungnya,” kata Eep. (far)

 


Artikel yang berjudul “Survei Polmark, Tujuh Parpol Diprediksi Gagal Melenggang ke Senayan – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.