Lima TPS di Semarang Dicurigai Rawan Money Politic – Kilasbaca.com

SEMARANG – Detik-detik menjelang coblosan, Badan Pengawas Pemilu Kota Semarang justru mencurigai atau mendeteksi adanya 1.724 TPS yang rawan disusupi konflik. Hal itu terungkap dari 10 indikator survei yang dilakukan petugas TPS di 16 kecamatan.

Ilustrasi. Para pemilih yang mengikuti simulasi pencoblosan di TPS 17 Kecamatan Margadana antre memasukkan surat suara yang sudah dicoblos di bilik suara. Foto : metrojateng.com/ adithya

Nining Susanti, Komisoner Bawaslu Kota Semarang, menyatakan dari ribuan TPS yang rawan tersebut, terdapat lima TPS di antaranya yang rawan terjadi sebaran money politic.

“Data TPS rawan akan terus kami pantau, karena kami menyakini bahwa TPS yang telah teridentifikasi rawan bisa saja menjadi tidak rawan, tetapi yang belum terdata rawan akan menjadi rawan, karena adanya beberapa faktor yang ada di lapangan,” kata Nining dalam keterangan yang diterima metrojateng.com, Selasa (16/4/2019).

Ia sedang mempertebal pengawasan selama masa tenang pada 14-16 April 2019. Ia juga telah memerintahkan personelnya untuk berpatroli demi mendeteksi dini potensi-potensi kerawanan yang ada. Hal ini dimaksudkan pula supaya dapat mengukur kewaspadaan terhadap praktek money politic hingga hari pemungutan suara.

Sebaran indikator TPS rawan dengan melakukan penilaian ada pemilih yang masuk DPTb sejumlah 1.448 TPS, pemilih DPK 235 TPS, dekat dengan rumah sakit 38 TPS, dekat dengan perguruan tinggi 94 TPS, dekat dengan lembaga pesantren/asrama 229 TPS, adanya dugaan pemberian uang 5 TPS, adanya potensi penghinaan di 4 TPS.

Kemudian ada kemungkinan KPPS berkampanye di 1 TPS, dan ada 225 TPS dekat dengan pemenangan peserta Pemilu.

“Banyaknya TPS rawan yang mencapai 1.724 akan mendapat pengawasan serius dengan melibatkan jajaran Panwas Kecamatan, Panwas Kelurahan hingga seluruh pengawas TPS yang ada di masing-masing TPS,” tandasnya. (far)


Artikel yang berjudul “Lima TPS di Semarang Dicurigai Rawan Money Politic – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.