Mengenal Sepak Terjang Nyincing Daster Club Bangkitkan Literasi di Era Milenial – Kilasbaca.com

SEMARANG – Berawal dari semangat Pramoedya Anaknya Toer dalam memperjuangkan literasi Indonesia, sekumpulan anak-anak muda membentuk komunitas literasi dan sastra yang mereka namai Nyincing Daster Club.

Anggota Komunitas Literasi “Nyincing Daster Club”. (dokumentasi)

 

Bagi mereka, menulis menjadi salah satu aktivitas untuk mengabadikan nilai kehidupan manusia secara artistik dan imajinatif. Sudah memiliki karir lantas bukan berarti mereka meninggalkan hobinya, yakni menulis.

“Ketidaksengajaan yang mempertemukan kami di platform media sosial. Semula tidak saling mengenal hingga akhirnya terbentuklah komunitas ini,” kata salah satu anggota Geng Nyincing Daster, Gusti Hasta, Minggu (7/4/2019).

“Kami terinspirasi semangat kata-kata Pramoedya Ananta Toer bahwa ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’.” ungkapnya lagi.

Gusti Hasta menjelaskan Nyincing Daster Club muncul dalam komunikasi harian antara anggota melalui grup WhatsApp (WA). Dalam kebiasaan perempuan Jawa, saat buru-buru dalam aktivitas, seringkali ditemui “nyincing daster”. Daster adalah gaun perempuan yang sengaja didesain longgar dan biasanya dipakai di rumah. Hal itu sering menjadi candaan ketika anggota komunitas ini diburu deadline. Saat ditagih untuk menyetorkan tulisan, dijawab “tak nyincing daster sik” (mengangkat daster dulu).

“Nyincing Daster berasal dari Bahasa Jawa ‘Nyincing’ yang memiliki arti ‘mengangkat’. Sedangkan Daster merepresentasikan perempuan. Nyincing Daster dalam istilah kami bisa juga diartikan sebagai upaya saling mendukung, saling mensupport di antara para anggota. Daster sendiri juga diidiomkan sebagai darling sister,” bebernya.

Sejak berdiri 27 Februari 2017 silam, komunitas ini telah melahirkan buku antologi sastra cerpen dan puisi berjudul “Syak Merah Jambu”. Saat ini sedang mempersiapkan launching buku kedua. Ketujuh punggawa dalam komunitas ini adalah Vika Aditya, Susi Haryani, Irza Khurun’in, Geriel Farah, Galuh Sitra, Gusti Hasta, dan Endro Gusmoro.

Buku pertama berjudul Syak Merah Jambu cukup mampu mengajak dan menginspirasi orang di sekitar untuk membaca buku. Sejak dilaunching pertama kali pada Maret 2018, buku ini telah dilakukan dua kali proses pencetakan. Hingga saat ini sedikitnya telah terjual 700 eksemplar.

Buku perdana ini sebagai cara dan upaya untuk merawat ingatan. “Mengupas manusia dari segala sisi dan sudut pandang, berkisah tentang cinta dan segala sebab akibat yang ditimbulkannya, bercerita tentang isu-isu perempuan seperti buruh migran perempuan, aborsi yang semakin marak, dan juga mengenai kejadian 1998 yang dikemas dengan cinta,” akunya.

Menurut dia, hal yang jauh lebih penting lagi adalah bagaimana menyelamatkan generasi agar merawat budaya literasi. “Budaya menulis dan membaca buku harus terus dirawat. Apalagi di era teknologi seperti saat ini, budaya membaca buku semakin tergerus,” ujar mahasiswa semester akhir UIN Walisongo Semarang ini.

Komunitas ini juga melakukan kegiatan tour lintas kota dengan diisi konser mini, bedah buku, sekaligus launching dan pembacaan karya.

“Kami juga menggandeng sejumlah komunitas musik, teater dan sastra untuk menggelar pertunjukan mini konser. Di antaranya kami helat di Yogyakarta dan Kediri, beberapa waktu lalu. Insyaallah, akhir April, kami Launching buku kedua berjudul ‘Matra Rana’ di Kota Semarang ” pungkasnya. (far)

 

 


Artikel yang berjudul “Mengenal Sepak Terjang Nyincing Daster Club Bangkitkan Literasi di Era Milenial – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.