Streetfood Fotografi, Bukan Asal Memotret Makanan – Kilasbaca.com

SEMARANG – Belakangan, streetfood fotografi mulai banyak digemari. Penggemarnya, terutama adalah para traveler (pelancong) atau wisatawan. Biasanya mereka mendokumentasikan apa yang dia temukan di destinasi wisata.

Chief Editor Linkers-Citilink Inflight Magazine, Marrysa Tunjung Sari dalam dalam rangkaian acara Semarang Foto Festival di DP Mall, Selasa (23/4/2019) petang. Foto: metrojateng.com/ade lukmono

Tak hanya menjadi wahana pemenuhan kebutuhan dokumentasi para pelancong, ternyata streetfood fotografi ini bisa menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah. Seseorang atau sekelompok orang bisa jadi tertarik mengunjungi suatu tempat lantaran melihat tampilan makanan khas yang apa adanya dari sebuah foto yang dibuat oleh pelancong sebelumnya.

Tapi ternyata, streetfoof fotografi bukan seperti seni fotografi makanan yang pada umumnya dikenal sebagai food fotografi. Chief Editor Linkers-Citilink Inflight Magazine, Marrysa Tunjung Sari menjelaskan perbedaan antara streetfood fotografi dan food fotografi. Meskipun keduanya hampir mirip, namun food fotografi lebih membutuhkan banyak elemen di dalamnya, seperti chef, food stylist, lighting dan efek-efek lain yang dibutuhkan.

“Sedangkan streetfood lebih menekankan pada tampilan apa adanya jajanan yang ada di daerah tersebut. Semua dipertahankan alami,” katanya dalam rangkaian acara Semarang Foto Festival di DP Mall, Selasa (23/4/2019) petang.

Dia mencontohkan, jika memotret jamu tradisional, sebisa mungkin memasukkan elemen-elemen yang mendukung, seperti botol kuno dan alat-alat tradisionalnya. Originalitas inilah yang menjadi nilai dalam streetfood fotografi. Jamu justru akan terlihat aneh jika ditata terlalu rapi hingga tampilannya menjadi tampak kekinian.

Menurut wanita yang akrab dipanggil Sasha tersebut, ada dua cara untuk memotret streetfood, yaitu dengan statis di mana makanan ditaruh dalam piring sajinya dan langsung dipotret. Sedangkan cara kedua adalah dengan menambahkan interaksi dalam makanan tersebut, seperti kegiatan menuang, menyajikan, menunjukkan proses pembuatan dan sebagainya.

Sasha menyarankan agar dalam memotret streetfood unsur yang ditonjolkan adalah cerita di balik makanan tersebut. Story bisa ditampilkan dengan beberapa foto yang menggambarkan lokasi, suasana atau proses pembuatan streetfood.

Fotografer ditantang untuk interaksi dengan pembuat atau penjual streetfood agar mendapatkan foto yang memiliki cerita. Dengan adanya interaksi antara fotografer dan pembuat streetfood, dia akan memiliki pengetahuan lebih mengenai makanan tersebut dan mampu menampilkan dalam frame bahan makanan yang perlu ditonjolkan.

Tantangan streetfood fotografi lainnya adalah menangkap keramaian yang ada untuk masuk dalam frame. Unsur ini penting untuk menunjukkan bahwa streetfood tersebut memiliki daya tarik yang kuat untuk wisatawan agar juga ikut penasaran mencobanya.

“Foto yang ditampilkan seharusnya foto yang dekat dengan masyarakat sehingga ketika kita ke sana, suasana dalam foto dan kenyataan tidak jauh berbeda. Tentu saja ini berbeda dengan food fotografi yang penampilkan makanan yang memang sengaja ditata cantik untuk ditonjolkan dalam frame,” tambahnya.

Dalam streetfood fotografi, fotografer harus mengutamakan kenyamanan pada pembuat atau penjual streetfood. Fotografer tidak boleh mengganggu aktivitasnya atau mendapatkan izin untuk memotret.

“Jika penjual tidak nyaman difoto close-up, bisa dipotret saja steetfood-nya atau dipotret dari jarak jauh. Sebaliknya jika sudah mendapat izin, tak jarang penjual biasanya malah akan membantu dan memberikan angle terbaik,” pungkasnya. (ade)


Artikel yang berjudul “Streetfood Fotografi, Bukan Asal Memotret Makanan – Kilasbaca.com” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Powered by Blogger.